Rabu, 27 April 2011

Anak jalanan

Di perempatan jalan lampu merah
Beberapa anak tengadahkan tangan
Mereka berebut setiap kendaraan yang berhenti
Berharap sekedar pemberian sekeping logam

Pernah kita peduli siapa mereka
Pernahkah terfikir oleh kita sudah makankah mereka
Pernahkah terfikir tinggal dimanakah mereka
Bagaimanakah masa depan mereka

Anak jalanan korban keadaan
Korban dari  ketidak pedulian
Ketidak pedulian lingkungan nan egois
Ketidak pedulian para penguasa negeri


Suka ataupun tidak, dia adakah bagian dari generasi
Dia adalah bagian dari penerus negeri ini
Bergeraklah engkau para pahlawan
Selamatkan generasi penerus bangsaku ini

Dirinya yang terlupakan

Tergeletak tubuh  kurus kering pembalut tulang
Diatas dipan besi alaskan kasur kapuk nan usang
Pemuda itu tergolek bagaikan seonggok barang rongsokan
Diam tak bergerak, bagaikan pohon kering nan terabaikan

Tatapan mata itu kosong entah sejak kapan
Tak ada reaksi apalagi komunikasi
Tak tampak sesercahpun harapan terlintas
Tubuh kerontang itu tenggelam dalam derita berkepanjangan
AIDS kini  tengah menggerogoti tubuh dan jiwanya

Kucoba menjalin kata pada lidah nan sudah lupa tuk berucap 
Ku coba menanam harap pada jiwa nan sudah tak punya asa
Kucoba mengulang ingat rohani nan tlah lama melupakan
Ku yakin Sang pemilik tak kejam dan berhati lembut

Yakinku berbalas sudah, sang diri kembali muncul kepermukaan
Komunikasi pun terjalin kini, Allah hu Akbar pun terucap sudah
Sang pencipta tak pernah melupakan
Meski dirinya tlah terlupakan,tapi  wajahnya tak kesepian lagi

Suatu pagi terlihat tubuh lemah terengah dan meregang
Gerangan sang sakaratul mautkah tengah menjemput
Kucoba menghampiri dan kembali mengingatkan sang diri
Kutatap mata itu tiada reaksi, setetes air mata tergulir jatuh
 
Kini dia telah tiada..kembali menghadap sang pencipta
Berakhir sudah semua derita, AIDS sang pembawa bencana
Semoga kisah deritanya membawa ajar bagi para pemuda
Tunas-tunas2 harapan  hendaknya lawan Narkoba angkara




Cahaya itu semakin meredup

Cahaya itu terlihat semakin meredup
Meredup perlahan semakin meredup dengan pasti
Tak terasa dan tak terbantah masa tlah lebih berkuasa
Sampai kapan semua bertahan

Masa gemerlap berlahan memudar sirna
tak satu kuasapun mampu menghalangi
Perlahan tapi pasti semua segera pupus
Meronta, menepis , memohonpun tak lagi ada makna

Wahai jiwaku nan tengah lengah dan terbuai
Kembalilah segera kealam nyata bahwa sinarmu tak segemerlap dulu
Lihatlah sinarnya semakin pudar ...........meredup dan segera padam
Kembalilah dan benahilah lenteramu agar padamnya dalam kesadaranmu

Sesekali terlihat cahaya itu mengecil dan bergoyang tertiup angin
Terlihat begitu rapuh dan tak kuasa bertahan
Harap begantung pada kuasa pemilik
Meredup pasti meredup menunggu masa meniup padammmmmm

Kucoba tuk menata ulang
Selagi cahayaku tak terlanjur pupus
Ku coba maknai lentera anugerahmu
Kembali kupersembahkan pasrah jiwaku







 
 
 





Minggu, 17 April 2011

Kegelapan

Kutengadahkan kepalaku menatap langit
Disana gelap  tanpa cahaya bulan ataupun bintang
Ku cuba mengalihkan pandang kesisi lain
Disanapun kutemukan hanya kegelapan
  Cahaya kemana kau tak tampakkan diri
  Ku cari dan ku cari dikau namun tak kutemukan
  Kemana, dimana dan cara apa ntuk singkirkan kegelapan
  Hanya keheningan yang menyelimuti  malam  ini
Kumiliki kegelapan malam ini tanpa secercah cahaya
Namun harapku tak memudar, kuyakin kan menjelang secercah sinar
Harapku kuharap tetap berbinar , menggantikan cahaya malam
Yakinku teguh, malam mendatang kan  kun jumpai cahaya penerang
  Kunikmati kegelapan malam ini apa adanya
  Kurasakan suatu misteri tersembunyi dibaliknya
  Kucoba memaknainya tanpa cita dan harap
  Namun kugagal menggapai makna






  














Pahlawan kecilku

Masih terngiang saat terdengar tangisan pertamamu
Tangisanmu melengking memecah keheningan malam itu
Engkau telah lahir wahai pahlawan kecilku
Wahai harapanku, perjuanganmu dimulai saat itu

Hujan gerimis bersenandung menyambut kehadiranmu
Udara terasa sejuk, suasana terasa damai
Alam menyambut indahnya kehadiran pahlawan kecilku
Tendangan kakimu lambang kekuatan daya juangmu

Kelahiran adalah kodrati alam nan melestarikan
Perjalanan kehidupan bak untaian nan harus dirangkai
Rangkailah untaian permata kehidupanmu wahai pejuang
Raihlah kemenangan demi kemenangan di medan perangmu

Kuhadiahkan sebuah terompet ke pangkuanmu
Harapku kan kudengar tiupan demi tiupan terompetmu
Terompet kemenangan wahai pahlawanku
Teruslah berjuang pantang menyerah, doa bunda menyertaimu


Jumat, 15 April 2011

Sesalku

 Cuaca hari ini begitu panas,gerah, kerontang.....gersanG
 Tiada selembar awanpun sudi memayungi.......
 Ku enggan melangkah meskipun kebosanan menyelimuti hati dan fikiranku
 Terbayang betapa menyenangkan jika ku tengah berada disebuah taman
      Kumelenggang sambil bersenandung dan mengayunkan langkah langkah kecilku dengan ringan
      Kunikmati hembusan angin semilir bertiup di helaian rambutku...
      Kunikmati desiran daun pepohonan nan berada diselilingku....
      Kunikmati gemericik air nan mengalir santai di sungai kecil disampingku....
      Kunikmati senandung hatiku nan mengalunkan irama nyanyian kalbu...
Tersentak hati dan fikiranku...........fakta disinilah aku, tengah kepanasan ditengah teriknya hari
Sesalku terlintas..., sesalku menggeliat.....,sesalku berkecamukkk
Sesalku tiada bersyukur saat hari2 terdahulu....
Saat cuaca nan elok, awan nan memayungi, suasana alammu nan indah.........kulupa bersyukur.
Kunikmati kelembutanmu , kunikmati pemberianmu, kunikmati kasih sayangmu..........
Namun ku lupa bersyukur..............Sesallll
( Terinspirasi oleh
udara diluar rumah yang panas, dan di fb seorang teman mengungkapkan tentang "Syukur" tq mendhel...)